Midnight Surprise From ACIdetikcom dan XL123

September 26th, 2010 by nengbiker
small steps to bromo, giant leap for my life, Bromo Reincarnation #ACI @Acidetikcom

there’s a place

there’s a view

there’s a most photo i like, ever

this.

perjalanan ini ada di sini. saat wingday NEOGATS. saat masih semangat 45 turun gunung naik gunung bersama mereke. saat sakaw turing masih sering melanda.

reborn journey, gitu kata Rama waktu edit foto ini menjadi lebih berkarakter.

tapi aku tetep suka yang asli. jajaran tiang penunjuk jalan bromo itu seperti pembatas. between reality and imagination. seperti penanda, hey, langkahmu sampai sini. berjalanlah terus dengan kakimu untuk menaikiku. tinggalkan kebendaan dan capailah keabadian.

reborn journey.

reincarnation.

reunion, september aku akan mengunjungimu lagi, bromo.

A Box That Provokes

September 20th, 2010 by nengbiker

sekuence

Tadao Ando bilang arti ARSITEKTUR baginya adalah chohatsu suru hako, yang bila diartikan dalam Bahasa Inggris adalah ”a box that provokes”.


Hai aremaniers, pasti sudah dong berkunjung ke MX Plaza, Malang? Sudah dong ngeliat sequence di entrance MX Plaza? Itu loh buletan buletan warni warna beda ukuran yang diinjek-injek sebelum masuk plaza. Kalo berkunjungnya siang hari memang ngga terlihat penting, tapi kalo malam, cantik bener buletan itu.

Mungkin meniru prinsip Tadao Ando yang dalam setiap penciptaan karyanya bukan pencapaian bentuk yang dituju oleh Ando, melainkan apa yang bisa dihadirkan dari keberadaan bentuk tersebut, sesederhana apapun bentuknya.

Buletan itu sederhana. Tapi mengena. Memberi pengalaman baru bagi masyarakat yang selama ini hanya memandang mall/pusat perbelanjaan hanya sebuah bentuk ‘kotak’ ‘masif’ dan begitu-begitu saja. Kalau diperhatikan di MX Plaza memang semuanya extraordinary, berbeda dari yang lain. Perhatikanlah, dan beri penilaian bersama di sini.

Aku kurang suka penataan booth penyewa di dalamnya memang, karena penuh dan semrawut. Tidak jelas pembeda antara area berjalan dan area penyewa. Jadi rebutan lahan. Tapi aku coba nikmati sudut yang lain, entrance, halaman samping, lengkung dan jajaran tiang di lantai dua. Beda rasanya karena MX Plaza juga bermain lampu di sana.

Dan paling suka berlama-lama di depannya Hoka-hoka Bento MX Plaza, karena di situlah ‘a box that provokes’ me berada…

taken by @renotxa

taken by @renotxa

Ke Sempu Lagi

Mei 26th, 2010 by nengbiker

“Lumpur itu menghisap kakimu. dan SEMANGATMU”
-ferdi by someone-

Pepatah itu bolak-balik didengungkan Ferdi saat perjalanan pulang menembus hutan pulau Sempu yang melelahkan. Kaki-kaki anak kota yang berbalut sepatu golf, sepatu fitnes, sepatu hiking dan sepatu PDL menapaki 2 km jalur berlumpur menuju ke peradaban dari dalam Segoro Anakan, Pulau Sempu. Kelelahan itu sedikit menguap saat bertemu Polisi Hutan yang meremehkan dan menghambat trip kami sebelum menyeberang. Congkak setelah bayar 50rb untuk IJIN MASUK HUTAN bolehkan?

Euforia kemenangan itu terasa banget apalagi setelah bertemu rombongan mahasiswa UM yang juga meremehkan kaki-kaki kota kami yang renta dimakan usia, mereka terjebak di tengah rute berlumpur karena persiapan yang kurang. Sandal mereka lenyap digerogoti lumpur yang menghisap kakimu. dan SEMANGATMU. Tak tampak lagi wajah meremehkan mereka saat pertemuan pertama karena saat pulang kami berempat melibas mereka hanya dalam waktu 5 menit sementara mereka sudah jalan 4 jam lamanya.

Bagi yang pengen ke Segoro Anakan di Pulau Sempu dalam waktu dekat selama hujan masih turun, sebaiknya memang berpikir ulang jika kondisi badan dan perlengkapan tidak memadai. Daripada terjebak di tengah hutan, main-main saja ke pantai di sekitar Sendang Biru. Naik perahu menuju laut lepas. Tapi jangan masuk ke hutan. Karcis untuk kami berempat plus mobil 24rb. Nyebrang ke Sempu 100,000. Dan yang terasa mahal jadi ijin polisi hutan menyebalkan itu. Kalau fasilitas ke dalam kalian perbaiki ok lah bayar untuk ijinnya, tapi jalan itu ngga berubah setelah 10 tahun yang lalu kami ke sana. Sama sekali ngga berubah. Tidak ada jalur pengaman untuk berpegangan di jalan turun. Tidak ada pengarah jalan. Bahkan dermaga untuk menurunkan di titik muat pun ngga ada. Jadi untuk apa masuk ke sana bayar? Untuk 10 tahun yang tidak ada perubahan????

Emosi.

Jadi, yang perlu disiapkan :

1. kaki yang kuat

2. badan yang sudah diisi energi

3. berbotol2 minum

4. sepatu yang kuat

5. doa

dan siap2lah foto ya. seperti ini dan ini

Malang Tempo Doeleo 2010

Mei 26th, 2010 by nengbiker

Hello… I just back to the future..

Menyusuri sepanjang Jalan Ijen untuk menikmati suasana Malang Tempo Doeloe. Menyiksa kaki menginjak tai kuda yang berceceran dari kuda-kuda para dokar. Berdempet-dempetan dengan ribuan orang lainnya yang sama-sama mau menempo dulu.

Sore kemarin sebenernya janjian sama temen-temen kantor untuk menempo dulu. Berpesta kostum jadul dengan kebaya encim dan sewek lusuh. Tapi karena suatu dan lain hal, aku berangkat duluan. Kehujanan di jalan. Milih parkir di Malang Olimpic Garden karena harus ke pusat atm dan samsat corner. Sepanjang jalan Semeru dan jalan Kawi, kendaraan sudah padat sangat merayap. Itu baru dari satu sisi untuk masuk ke area Malang Tempo Doeloe. Karena masih hujan juga sementara kostum tidak dipakai, disembunyikan di balik jaket.

Dingin pertama kurasa.

Dan selanjutnya sumuk meraja.

Masuk dari kawasan jalan Semeru disambut gerbang bambu dan pasukan kemerdekaan yg membawa senjata laras panjang. Eh? Bukannya ini temanya Rekonstruksi Budaya Panji abad 8 sampai 15? Masuk lagi dan ngeliat musik akustik bagus dari Universitas Machung. Eh, musik akustik? Selanjutnya jajaran penjual batik dan jajanan gulali menjamur di sisi sebelah kiri dari Perpustakaan Kota. Uh pengen panekuk dan pofertjes khas Belanda itu!

Diselingi hilir mudik dokar yang terhambat dengan parkiran mobil di dalam juga motor yang melintas. Eh, mobil dan motor? Melewati kampung Telkomsel dan panggung gamelan. Lagi-lagi deretan penjual gulali. Juga es gandul. Tak terasa sudah sampai ke kawasan Gereja Ijen. Ngejogrok di stan Anak Kolong ngeliat senjata-senjata perang. Eh, kok uda ada land rover ya di abad 8-15 itu?

Putar balik ke arah Jalan Semeru, lucu-lucuan di stan Ria Djenaka yang nyediain sepeda dan patung gareng. Beli pin gambar Malang Tempo Dulu untuk suvenir ntah buat siapa. Dan melihat mbah Bogang temen kantor yang didapuk untuk meramal di stan Kosmonita. Trus pulang melewati atraksi jalangkung.

Banyak memang kekecewaan karena tidak ada lagi suasana syahdu Malang Tempo Doeloe yang tidak berlampu listrik dan beda banget dari tema yang seharusnya digelar.

Saran sih untuk penyelenggara, kalo kendaraan pengunjung tidak boleh masuk, begitu juga untuk peserta stan dan panitia. Buat suasana jadul tidak dirusak dengan motor dan mobil keluaran tahun 2000 yang berkeliaran. Memang ini bikin ga asyik untuk dateng ke MTD but it still the biggest costume party ever.

ohya, kasian sama penghuni rumah2 di jalan ijen yang terpaksa tergusur sementara jalan masuk ke rumahnya. Mas Danis dan Anggi, semalem puter2 nyari gerbang rumahnya ngga ketemu padahal rumahnya jelas megreng2 keliatan atepnya. Hanya, gerbang rumahnya yang memang ketutup sama stan bikin mereka kelimpungan.

semoga amal ibadah penghuni rumah di jalan ijen mendapat pahala yang setimpal….

More..

Burger Buto, The Longest Burger

Mei 26th, 2010 by nengbiker

Ada satu lagi jajanan dari Kota Malang yang uda kesohor ke luar daerah ternyata, dialah Burger Buto. Kenapa kesohor? Karena kemaren kedatengan sodara dari Bogor dan beliau ngotot banget pengen ngeliat gede dan panjangnya Burger bikinan Burger Buto.

Dan semalem meluncurlah kita ke sana. Mesen Burger Buto yg diameter 20cm dan Burger Buto Long. Belum lagi masi penasaran sama Burger Buto Keceng. Suasana di Kedai 27 tempat Burger Buto diproduksi ini lagi ramai semalem. Suasananya yang jadul dengan kursi-kursi kunonya serasa Malang Tempo Doeloe pindah ke Kedai 27 ini. Teras yang dulu tertutup sekarang sudah dibuka dan diisi dengan meja dan kursi yang jumlahnya lebih banyak. Pelanggannya semakin fanatik rupanya.

Setauku dulu Kedai 27 ada di dekat Rumah Sakit Panti Waluyo Sawahan. Dulu menunya semacem Pizza dan Italian Food. Aku suka Pizzanya, tipis dan crunchy. Terus Kedai ini vakum selama beberapa waktu. Nah muncul lagi nama Kedai 27 di seputaran Pasar Tawangmangu, deket Kuburan Samaan. Dengan versi menu yang berbeda.

More…

Quattro, Better Place Delicious Taste

Mei 26th, 2010 by nengbiker

Malam ini saya memutuskan untuk menguliner di sekitar rumah aja. Setau saya banyak rumah makan dan cafe yang bermunculan di sana. Mengabaikan kepengen mie kuah pedas di warung kediri, ayam bakar kecap di lintang, pempek palembang di jembatan ranugrati, dan orenz cafe, saya terdampar di Quattro.


Cafe ini letaknya strategis, di perempatan jalan danau bratan pusatnya jajanan di perumahan Sawojajar. Berkali-kali sama Bazz pengen icip-icip ke situ tapi belum kesampean.

Malam ini saya sama hunnie belok deh ke sana. Ngelewatin meja pasangan yg lagi prewedd, kami milih duduk di dalam sambil nonton Opera Van Java di layar tipi. Konsep cafe ini lebih ke family dining saya rasa. Tidak ada meja dengan hanya 2 kursi, minimal 4 sampai 8 di tiap mejanya. Pengen lebi intim, coba duduk di meja bar sambil ngintip bartender ngeracik cinnamond coffee pesanan saya. Minuman yang disediakan berkisar kopi dan jus buah segar. Cinnamond coffee yang saya pesan meringankan pikiran saya tentang kopi yg bikin ga bisa tidur. Rempah-rempahnya bikin aroma kopi ini segar.

More…

Agra DaCosta - Perempuan Tangguh Di Roda Dua

Januari 11th, 2010 by nengbiker

Agra DaCosta. Namanya pun sudah unik seperti orangnya. Sebelumnya saya hanya kenal dia sebagai perempuan kekasih teman dekat saya. Selayaknya kekasih laki-laki manapun, perempuan ini manjanya setengah mati. Tapi latar belakang masa kecilnya di Jakarta juga membentuknya menjadi perempuan yang mandiri.

Dia pernah bercita-cita membebaskan ‘babu-babu’ sebuah resto fasf food tempat dia dulu pernah bekerja. Lagaknya yang bandel dan susah diatur memang susah untuk memahami peraturan perusahaannya. Dia hanya ingin mereka bekerja dengan senang, bukan hanya senyum di depan, tapi juga dari hati. Dia menikmati setiap detik dirinya menjadi perempuan, kala itu. Dengan limpahan kasih sayang dari si pacar, dan perhatian dari orang tua yang jauh di mata.

Kala hidupnya terguncang, terbayangkan betapa sakit dan bingungnya dia mencari pegangan. Kekasih hati menjauh dan dia kelimpungan. Badan yang semakin kurus. Tak tampak perjuangan di matanya lagi. Dia terus menyiksa dirinya kenapa tak bisa memenuhi impiannya. Menyalahkan keadaan kenapa tidak bisa berkompromi dengan keinginannya.

Tapi itu tidak lama.

Dia kembali bangkit. Meraih senyumnya lagi. Mengisi hidupnya lagi. Menemukan semangatnya di atas roda dua. Dulu status dia hanya boncenger, sekarang dia menguasai kemudi penuh. Menarik gas dalam-dalam. Menginjak rem dengan perlahan. Kini dia yang memiliki hidupnya kembali jauh melewati batasku.

Cerita terakhirnya yang jatuh terjungkaldi jurang kala menjajal trek basah di tengah hutan, jadi inspirasi postingan di blog ini.

Agra, you go girl!

Rafting 2012

Desember 23rd, 2009 by nengbiker

Tanggal yang bagus, 2012.

Hari itu kami berangkat ber-20 orang dengan menumpang 4 mobil menuju Probolinggo. Tepatnya menuju ke Pekalen, tempat kami akan rafting bersama kru Regulo.

Jalur yang ditempuh Malang, Singosari, Lawang, Pasuruan, Probolinggo dilewati dengan lancar. Mendekati lokasi hawa sumuk semakin terasa, maklum lewat pinggiran pantai.

Di Camp Regulo rombongan istirahat dulu n pada ganti kostum yang sesue aka celana pendekan. Rombongan dibagi menjadi 5 kelompok untuk membagi isi perahu siapa aja. Ditemani Guide Mulyadi, rombonganku diisi ama cinta, dodik, mas aryo n xapi. Kami diangkut dengan 2 pick up menuju titik point pemberangkatan. Mayan lah jauhnya. Naik-naik ke puncak gunung.

Sekitar 30 menit diguncang-guncang mobil, kami diturunkan dan kudu turun menuju sungai dengan jalan hampir 1km. Adrenalin semakin terpacu waktu mulai denger deburan air di jeram.  Masuk di perahu karet nomor 4, kami sekali lagi dibriefing cara mendayung dan perintah mendayung.  Dayung  kanan dayung kiri. Dan melajulah kami melintas jeram. Di jeram pertama sudah dikejutkan dengan derasnya air, mas aryo terlempar seketika.  Lumayan kejedug2 batu katanya.  Bener-bener seru. Di perhentian pertama mulai pada jebur-jeburan, dan dengan senang hati milih jebur sendiri ketimbang ditarik sama ferdi.

pc203043-large

Perjalanan dilanjutkan. Perahu nomer 4 kami dikejar-kejar perahu tim rescue jadinya kita kebut-kebutan ndayung. Sampe sengkleh separo rasanya ni tangan. Di check point rest area Regulo, kami disuguh jemblem anget ama kelapa muda. Wenak banget deh pokoknya. Sebelum dilanjutkan, guide ngajak untuk cebur-cebur lewat jembatan. Mayan tingginya ada 8 meter. Pokoknya aku ga brani! Mending ngacir lewat jalan yang baik dan benar.

Cinta ga rela aku ga nyebur, naik perahu aku diceburin dulu baru boleh naik perahu. Ribet amat! Arus semakin deras dan kami sudah hampir kehabisan tenaga gara-gara masih kejar-kejaran sama tim rescue. Menang teriak-teriak aja deh. Sambil mompa semangat. Di titik terakhir kami disuguhi atraksi dan disuruh atraksi jebur-jebur sama guide Mulyadi. Dan kelempar semua dari perahu saking semangatnya.

Setelah 2,5 jam mengarungi sungai sepanjang 13 km, segera mentas dan mandi. Mbayangin ga kalo jebur-jebur itu tadi campur ee sapi dan ee manusia. Maklum sih, soalnya sungai itu dipake masyarakat sekitar untuk beraktivitas. Jadi sepanjang sungai kita ngeliat bersapi-sapi yang mandi, sama penduduk sekitar yang mandi, pup, cuci baju, juga yang pacaran-pacaran.

Mandi selesai dan langsung pada serbu makan. Wenak loh makannya. Menu nasi jagung, pake pecak terong, lalapan, sayur asem, ama ikan asin. TOP! Mpe ga nyadar kalo uda ngisi piring penuh sampe munjung. Gitu juga pake nambah pecak terong lagi sepiring.

Habis makan kita lanjut perjalanan pulang. Rencana mampir Ranu Agung dibatalkan karena hari sudah sore. Mending balik ke Malang dan mampir di Pantai Bentar. Wow, bagus banget bisa jalan-jalan ke tengah laut soalnya ada dermaganya yang menjorok ke tengah laut.

Perut kenyang, hati senang, dan kami puas sudah jalan-jalan. Mobil ngebut lagi menuju Malang. Tepat pukul 20.00 tiba di check point rumah hesti. Setelah beberes langsung deh pulang untuk ngurut kaki.

Sungguh pas menghabiskan 2012 di Pekalen….

Lagi Deg-degan Nunggu Libur Panjang

Desember 16th, 2009 by nengbiker

ke sini yuk..

ntar rencananya mau bobo yang panjaaaang…

Besok mo nonton sang pemimpi…

Jumat survei tempat mancing di KaliLanang, Batu

Sabtu bobo?

Minggu? RAFTIING RAFTIIING!!!

eh ada tawaran kamis malem ke bali.. ckckckck.. harus pilih yang mana nih. secara uda booking rafting kan ga bisa ditarik… bingung bingung…

bingung terus saia nih

Next, Songa Rafting

Desember 13th, 2009 by nengbiker

Liburan panjang menjelang akhir tahun 2009, kantorku ngasi banyak kesempatan untuk sejenak melepas lelah sambil menyiapkan diri untuk masuk ke tahun 2010. Bareng sama beberapa temen kantor kita mutusin untuk teriak-teriak sambil basah-basahan di Songa Rafting.

Lokasinya di sungai pekalen bahkan ngga tercantum di googlemap. Bikin bingung nyarinya. Modal informasi dari websitenya aku dapet peta menuju lokasinya.

songa

Waw, nyasar ngga ya ntar ke sana?

Kami rencana ber 20 orang ngambil paket yang terjangkau saja lah ^^. Check point keberangkatan di kantor blok A tet jam 6. Mobil 3 mudahan cukup. Rencana sarapan di pinggir jalan ajah biar nyantai.

Uuuuw.. uda ga sabar. Uda nyiapin kostum jebur-jebur. Bersama sendal eiger kesayangan dong.. Senengnya ada yang bawa kamera waterproof 2 biji. Bener-bener perjalanan yang bermartabat!

Songa, sudah ngga sabar ngrasain derasnya sungaimu…